Sering Brand ‘menghamburkan’ uang dengan aktivasi sosial media tanpa arah dan tujuan yang jelas selain untuk brand awareness. Apa sebabnya? Pernahkah Anda memeriksa apakah aktivasi di sosial media sudah sesuai dengan praktik terbaik?.

Hindari Kesalahan Aktivasi di Sosial Media

Jadi Anda tiba di kantor hari ini, bertekad untuk mencari tahu mengapa upaya media sosial Anda tidak membuahkan hasil. Tidak ada pertanyaan yang masuk, tidak ada penjualan baru, bahkan sangat sedikit percakapan yang bisa dibicarakan.

Dua jam kemudian, kopimu dingin. Anda telah melakukan segalanya dan Anda tidak bisa mencari tahu apa masalahnya! Jadi itulah inspirasi untuk posting blog ini – untuk membantu semua orang di luar sana yang berjuang untuk mendapatkan hasil dari aktivasi di sosial media.

Untuk memahami alasan kenapa belum berhasil untuk bisnis Anda, ada yang perlu Anda ambil untuk membalikkan keadaan agar bisnis Anda dapat terhindar dari kesalahan dalam pemasaran digital yang banyak terjadi di perusahaan-perusahaan di Indonesia.

Pahami media sosial dengan istilah yang paling sederhana.

Sebagai sebuah bisnis, aktivasi di sosial media Anda akan berhasil jika:

  • menjangkau cukup banyak orang yang tepat dan
  • mengubah orang-orang itu menjadi prospek, calon pelamar, penjualan, dan sebagainya.

Jadi pada dasarnya aktivasi di media sosial Anda gagal karena mungkin tidak menjangkau cukup banyak orang yang tepat, atau karena belum mengetahui cara mengubah jangkauan itu menjadi hasil akhir.

Dengan mengingat hal itu, berikut adalah beberapa kesalahan yang saya lihat pada brand besar dengan membuat kerugian baik jangkauan atau kemampuan untuk mengubah jangkauan menjadi hasil:

Mari kita lihat masing-masing masalah tersebut secara lebih terperinci. 

Tidak ada yang peduli dengan pesan Anda

Kemampuan untuk mendapatkan hasil dari aktivitas di sosial media secara langsung terkait dengan jumlah orang yang melihat, membaca dan berinteraksi pada setiap konten. Untuk membuat pesan kita dilihat oleh sejumlah besar orang yang tepat, gunakan pendekatan seperti berikut ini:

  • Menumbuhkan pengikut yang cukup besar dari orang-orang yang sangat relevan.
  • Membangun hubungan yang kuat dengan influencer utama di pasar Anda yang dapat membagikan ulang pesan Anda untuk dilihat oleh pengikut mereka yang biasanya sangat banyak.
  • Mencari tahu bagaimana beriklan untuk menjangkau banyak orang yang tepat di media sosial.

Mayoritas bisnis yang berusaha mendapatkan hasil di media sosial jatuh pada rintangan pertama ini. Ini karena pesan mereka tidak pernah dilihat oleh cukup banyak orang.

Jika Anda perlu mengajak 100 orang ke situs web Anda untuk melakukan 1 penjualan, bagaimana hal tersebut dapat terjadi jika sebagian besar dari mereka tidak pernah mengklik pesan promosi Anda?.

Terlalu Berpromosi

Pemirsa di media sosial mungkin sudah terlalu bayak mendapati informasi penawaran. Ini artinya, Anda harus dapat sedikit unik untuk dapat menonjol dalam pemasaran di media sosial.

Bisnis yang berusaha mendapatkan hasil dari media sosial harus dapat mengarahkan pemirsa menjadi pembeli. Ini ada hubungannya dengan perilaku konsumen online yang tidak segera membeli ketika mendapatkan penawaran. Walau mereka tertarik dan ada kebutuhan, mereka akan mencari informasi tambahan, testimoni dan sebagainya.

Semakin Anda fokus pada content penjualan di media sosial, semakin tidak efektif nantinya. Sebaliknya, fokuslah untuk menjadi menyenangkan, membantu, menghibur atau bermanfaat bagi target pemirsa Anda di media sosial.

Begitu target pemirsa mulai melihat merek Anda di feed mereka karena orang yang mereka kenal telah membagikan salah satu posting Anda, peluang menghasilkan penjualan meningkat secara signifikan. Setelah Anda mulai melakukan percakapan dengan orang-orang, kemungkinan untuk melakukan penjualan semakin meroket.

Sebagai contoh, katakanlah Anda sedang berusaha memasarkan restoran Jepang dengan beberapa menu unggulan. Pernahkah Anda berpikir di luar sana terlalu banyak informasi yang sama dengan Anda?. Sudah tahukah Anda bahwa konsumen millennials saat ini lebih membeli pengalaman ketimbang produk?.

Jadi, fokuslah untuk memicu re-share dan memulai percakapan, alih-alih berpromosi yang berlebihan.

Tidak Menerapkan Corong Konversi (Conversion Funnel)

Bisnis paling sukses yang kami lihat di media sosial telah mengembangkan corong konversi dan pengujian yang jelas dan menyempurnakannya terus menerus.

Baik untuk merekrut orang dari media sosial, atau menghasilkan penjualan online, mereka telah menemukan bahwa cara yang efektif adalah dengan membimbing prospek ideal mereka dari titik kontak pertama ke tindakan.

Ini akan melibatkan strategi pemasaran inbound.

Sebagian besar bisnis dalam aktivasi di sosial media akan melihat peluang untuk beriklan untuk cepat mendapatkan hasil. Tetapi ingatlah, bahwa konsumen online tidak akan langsung membeli. Merupakan kesalahan umum yang mendasar dan banyak terjadi adalah anggapan bahwa beriklan merupakan solusi instan untuk langsung sukses.

Tanam dan pupuk kepercayaan pada target pemirsa Anda. Ini memang akan membutuhkan waktu, kecuali Anda memiliki budget iklan sekurangnya Rp. 12 milyar untuk dihabiskan sehari (seperti pada launching produk ponsel).

Setiap bisnis berbeda, tetapi Anda harus memahami corong penjualan Anda. Mudahnya, semakin perusahaan lebih terlihat di media sosial, maka harus semakin banyak membawa kunjungan ke situs web Anda. Pada akhirnya, dengan informasi bermanfaat secara terus menerus, mereka  akan percaya dan yakin untuk membeli dari Anda.

Hal ini perlu dilakukan secara konsisten, karena itu untuk menjalankan aktivasi sosial media yang sukses akan memerlukan komitmen.

Tidak Ada Strategi dan Pengukuran yang Jelas

Menjalankan aktivasi di sosial media dengan menghabiskan waktu, anggaran dan tenaga tanpa memiliki tujuan, strategi dan pengukuran yang jelas merupakan suatu kekonyolan. Ini memang masih banyak terjadi di perusahaan-perusahaan Indonesia.  Terutama bagi mereka yang masih berpikir tentang ATL dan BTL alih-alih mempelajari strategi inbound.

Digital marketing memerlukan tahapan seperti menyebarkan kesadaran merek, mendorong ketertarikan, membentuk kepercayaan, dan mengarahkan untuk mengambil tindakan.

Jadi, jika karyawan atau konsultan pemasaran Anda tidak memahami inbound marketing, maka dapat dipastikan mereka tidak memahami strategi, apalagi pengukuran. Dan ini dapat menjadikan perusahaan Anda mengeluarkan uang hanya untuk sesuatu yang terlihat wah alias hanya menjadi perusahaan penggembira di sosial media. Artinya, milyaran uang Anda hanya untuk stage awareness tanpa akhir, tidak sampai ke stage menghasilkan penjualan.

Anda perlu memiliki seseorang yang waktunya dikhususkan untuk aktivasi di media sosial. Ini bertujuan agar perusahaan dapat lebih fokus berupaya dalam mendapatkan hasil. Social media marketing seperti digital marketing pada umumnya, harus bereksperimen untuk mengetahui apa yang berhasil dan apa yang tidak bekerja untuk bisnis Anda.

Jika Anda memiliki seseorang yang hanya bermain-main dengan media sosial selama satu jam sehari, maka sangat tidak mungkin kesuksesan tidak akan terjadi. Anda dapat mengatasi hal ini dengan bermitra pada konsultan digital marketing seperti KiosMaya tentunya.

Tampilkan iklan yang menarik agar mereka mau kembali ke situs untuk melakukan pembelian di waktu mendatang. Ini merupakan salah satu cara yang efektif dalam menggunakan media sosial untuk meningkatkan pendapatan. Tetap konsisten pada strategi inbound marketing Anda.

Beriklan hanya untuk sekedar awareness

Ini artinya Anda menghamburkan anggaran perusahaan hanya untuk design, produksi video, dan beriklan. Tanpa strategi, tanpa target distribusi yang jelas, hasil apa yang dapat diharapkan selain hanya “Oh ada produk merek itu”. Anda harus mulai berpikir lebih jauh dari itu, misal untuk mengajak orang mengambil tindakan segera.

Menggunakan konsep story telling atau video web series merupakan hal yang bagus, sepanjang disesuaikan dengan strategi inbound untuk memupuk minat, kepercayaan dan mengarahkan pemirsa mengambil tindakan.

Demikian pula, memasukkan sejumlah anggaran secara cerdas ke dalam iklan media sosial dan pemasaran influencer dapat menuai hasil besar. Tapi bagaimana dengan retensinya ?.

Sebagai solusinya, Anda dapat mulai menjalankan kampanye di mana setiap orang yang telah mengunjungi halaman penjualan di situs web Anda tetapi tidak melanjutkan untuk membeli dari Anda. Iklan semacam ini disebut sebagai re-targeting ads yang terdapat di Google Ads dan Facebook Ads.

Pemikiran Akhir

Jadi ketika berpikir tentang berinvestasi di media sosial, jangan hanya memikirkan biaya, akan tetapi milikilah strategi pemasaran di media sosial. Pikirkan lagi dalam bermitra pada konsultan pemasaran Anda, apakah mereka benar memahami digital marketing? atau hanya sebatas creative communication saja?.

Berusahalah untuk berikan respon cepat. Setelah menjadi bagian dari percakapan – dan setelah Anda membantu orang melalui balasan media sosial – Anda kemudian dapat menawarkan penjualan. Di sini jelas, bahwa digital marketing mendatangkan orang-orang, namun team digital sales Anda harus siap sedia.

Semoga ide-ide ini membantu Anda dalam memahami penyebab kegagalan dalam mendapatkan hasil yang diinginkan dari aktivitas perusahaan Anda di media sosial.

Jika Anda dapat mengatasi kesalahan tersebut di atas, kami cukup yakin Anda akan melihat peningkatan yang signifikan dalam hasil.

Tetapi jika Anda memiliki kekurangan keterampilan yang diperlukan untuk melakukan ini, atau Anda ingin mencapai ini untuk pengeluaran yang lebih sederhana, Anda dapat menghubungi kami untuk membuat media sosial perusahaan Anda berfungsi untuk bisnis Anda.

Pin It on Pinterest

Share This