Banyak yang merasa kurangnya manfaat digital marketing setelah melakukan serangkaian upaya untuk bisnisnya. Padahal, penyebab kegagalan digital marketing harus dapat diketahui oleh bisnis agar dapat diperbaiki dan pada akhirnya menemukan kesuksesan.

Transformasi Mindset Untuk Kesuksesan Digital Marketing

Digital marketing merupakan turunan dari transformas digital, oleh karena itu mindset kita perlu di transformasi juga. Artinya, tidak ada resep sukses dalam menjalankan digital marketing kecuali menggunakan strategi, pengukuran dan konsistensi. Lucunya, bahkan ada anggapan jika digital marketing ini seperti “dukun pesugihan” yang artinya “Jika saya mengeluarkan biaya maka harus jamin penjualan saya meningkat.

Mindset seperti itu tidak dapat diterapkan di era digital, khususnya di saluran online. Saat ini sekitar 180 juta penduduk di Indonesia lebih banyak menghabiskan waktu sehari-hari pada laya gadget mereka. Ada perilaku konsumen yang bergeser. Oleh karena itu, kseuksesan digital marketing dapat diraih ketika mindset kita sudah beradaptasi dengan baik.

Sebaliknya, jika mindset yang belum bertransformasi masih kita perlihara, maka kegagalam digital marketing hanya akan menjadi kerugian.

Kegagalan digital marketing dapat terjadi pada kita semua, berapapun budget Anda. Akan tetapi, kita dapat “mengolah” kegagalan tersebut dan merubahnya menjadi kesuksesan yang dapat membuat bisnis anda semakin berkembang. Untuk itu, mari kita pelajari penyebab kegagalan digital marketing agar dapat kita “olah” menjadi kesuksesan dalam melakukan digital marketing.

Penyebab Kegagalan Digital Marketing

Ada beberapa hal yang menyebabkan upaya digital marketing Anda tidak berdampak positif pada bisnis Anda, antara lain:

Tak Jelas Arah dan Tujuan

Anda hanya terpaku pada penjualan dan biaya yang dikeluarkan, seperti biaya iklan di Google. Padahal, konsumen online tidak akan mau berhubungan dengan pihak yang tidak mereka kenal dengan baik.

Untuk itu ada dikenal strategi inbound pada digital marketing yang mengarahkan pemirsa online menjadi pelanggan online. Strategi ini tidak mesti hanya perusahaan besar yang dapat terapkan, UMKM juga bisa terapkan dengan skalanya dan harus lebih menajamkan target pemirsa online.

Strategi inbound marketing ini bertolak belakang dengan teknik ‘hard-selling‘. Namun ketika bisnis berhasil meyakinkan pemirsa onlinenya secara tertarget, diakhir proses inbound orderan atau pembelian akan membanjiri aktivitas mereka sehari-hari.

Dalam strategi inbound, tujuan terdefinisi dari tahapan yang ada. Mulai dari awareness, tujuannya adalah menyampaikan informasi bisnis ke banyak pemirsa secara tertarget. Kemudian diikuti dengan tahap decision, yang bertujuan untuk meningkatkan keyakinan pemirsa. Hingga pada tahapan akhir – Call-to-Action – yang mengajak pemirsa untuk ambil keputusan.

Ingat, perilaku konsumen di era online ini sudah berubah atau sudah bergeser. Strategi inbound merupakan salah satu pendekatan untuk beradaptasi pada perubahan tersebut.

Tidak Memahami Target Pemirsa

Tidak hanya di bisnis UKM ini terjadi, di perusahaan-perusahaan besar bahkan kami masih menemukan tidak pahamnya mereka tentang siapa target pemirsa online untuk bisnis mereka. Ini sering dialami oleh orang-orang di internal perusahaan yang di benaknya selalu berkutat pada target penjualan.

Berdasar pengalaman kami, penargetan pemirsa harus dimulai dalam memahami bisnis client yang kemudian dilanjuti dengan siapa pembeli atau pengguna jasa mereka. Baru kemudian kami melakukan analisa untuk mendapatkan pemirsa yang tepat. Ini memang memerlukan fokus, analisa dan pengujian.

Dan terkadang, pemirsa suatu bisnis berubah, dalam arti keberadaan mereka, yang tadinya di Instagram berubah pindah ke TikTok misalkan. Jadi, selalu ada dinamika dalam hal ini, dan inilah pentingnya untuk memahami target pemirsa bisnis Anda untuk mecegah kegagalan digital marketing.

Banyak alat online yang dapat digunakan untuk menganalisa siapa pemirsa bisnis Anda, seperti SEMRush, Google keyword planner, Ahrefs, dan sebagainya. Bahkan ada peralatan digital marketing yang canggih, dapat menemukan jenis pemirsa yang harus Anda targetkan.

Tidak Memahami Saluran Digital

Maksudnya adalah, tidak memahami dimana iklan akan dipasang, apakah di website berita, marketplace, search engine, social media A – Z dan seterusnya. Saluran digital seperti social media yang satu dengan yang lainnya berisi orang-orang yang memiliki minat atau concern yang berbeda-beda.

Sebagai contoh, Facebook mungkin lebih tepat untuk iklan kursus Bahasa Inggris ketimbang di Instagram. Sebaliknya, Instagram lebih cocok untuk iklan produk fashion dan kosmetik ketimbang di Facebook.

Saluran digital juga harus disesuaikan dengan tujuan kampanye online Anda. Misal Anda bertujuan untuk mendapatkan konversi atau panggilan telepon atau bahkan penjualan, maka iklan di Google lebih tepat untuk tujuan tersebut. Jika Anda pasang di social media, sebagai tempat bersosial kemudian muncul iklan penawaran Anda, tentu para pemirsa online hanya menanggapinya dengan “oh” saja. Kecuali Anda memberikan diskon besar-besaran atau keuntungan yang besar bagi para pemirsa di media sosial.

Dalam hal ini, pengukuran harus ada. Seperti tracking konversi di Google Analytics yang dapat digunakan secara gratis. Alat tersebut memberikan visibilitas, saluran social media yang mana yang efektif untuk kerahkan upaya digital marketing kita.

Tidak Ada Pengukuran

Pada Bisnis UKM, satu-satunya pengukuran biasanya hanya berdasar berapa besar pendapatan dibanding pengeluaran untuk digital marketing (iklan, content, SEO, dll). Pengukuran tersebut merupakan metrik ROAS dan ROI Digital Marketing, dimana ada faktor-faktor yang membentuk metrik tersebut.

Seperti penjelasan di atas mengenai strategi inbound, setiap tahap memiliki tujuan, dan setiap tujuan memiliki pengukuran masing-masing. Misal, tujuan Anda adalah menyampaikan brand produk, maka ada beberapa metrik yang dapat Anda jadikan pengukuran, seperti:

  • Berapa banyak pemirsa yang dijangkau
  • Berapa banyak pemirsa yang berinteraksi dengan konten atau iklan Anda

Setelah beberapa lama, pengukuran tersebut akan meningkat pada brand recall dan brand lifting, yang mengukur seberapa banyak orang yang mengingat brand produk Anda dengan baik. Baru kemudian brand loyalty.

Untuk bisnis UKM, pengukuran dapat berupa:

Dengan memiliki pengukuran, Anda dapat lebih cepat melihat apa yang salah dan lakukan perbaikan. Hanya dengan cara ini kegagalan digital marketing Anda dapat diperbaiki agar menjadi sukses.

Tidak Terintegrasi

Jika apa yang anda anggap digital marketing selama ini tidak memiliki strategi dan pengukuran, ini artinya digital marketing Anda belum terintegrasi. Untuk mengoptimalkan upaya digital marketing, bisnis perlu mengintegrasikan semua upaya digital marketing tersebut.

Misal, untuk tahap Awareness Anda menggunakan media sosial yang kemudian pengukuran Anda ambil dari Google Analytics, ini artinya Anda sudah mengitegrasikan social media dengan website Anda sehingga memiliki pengukuran.

website sebagai jantung digital marketing

Dalam hal integrasi pada digital marketing, ini artinya Anda menggunakan beberapa saluran, tidak hanya satu saluran, dan harus termasuk website sebagai jantung atau pusat dari digital marketing. Cara ini akan memberikan Anda kemampuan dalam menilai kinerja digital marketing Anda.

Kesimpulan:

Serba salah memang ketika kita tidak memiliki pengukuran terhadap kinerja digital marketing. Jika diteruskan, biaya seakan terus terbuang sia-sia, jika tidak diteruskan kita akan lihat pesaing kita yang akan mengambil tempat di pasar. Ini merupakan dilema yang dapat menyebabkan kegagalan digital marketing.

Oleh karena itu, setiap bisnis harus memiliki tujuan, strategi, dan pengukuran dalam melakukan pemasaran di saluran online. Masing-masing point penting tersebut ada banyak teknik dan taktiknya, tidak semua bisnis sama dan tidak semua saluran online cocok untuk bisnis Anda.

Hal tersebut diatas dapat membentuk konsistensi dalam upaya digital marketing. Konsistensi merupakan kunci keberhasilan dari digital marketing.

 

Pin It on Pinterest

Share This